Tekanan Inflasi Sektor Pangan di Akhir Februari
Kondisi dapur masyarakat kembali diuji dengan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pokok yang cukup signifikan di berbagai pasar tradisional. Berdasarkan pantauan data harga pangan nasional pada pekan terakhir Februari 2026, kenaikan paling tajam terjadi pada komoditas cabai rawit merah yang kini menyentuh angka Rp78.450 per kilogram. Lonjakan harga ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya laju inflasi musiman, mengingat cabai merupakan salah satu komoditas utama yang memiliki andil besar terhadap fluktuasi indeks harga konsumen di Indonesia.
5 Poin Utama Kondisi Harga Pangan Hari Ini
-
Puncak Kenaikan: Harga cabai rawit merah mengalami kenaikan rata-rata 15% dibandingkan pekan sebelumnya, mencapai level Rp78.450/kg di wilayah Jabodetabek.
-
Faktor Cuaca: Tingginya curah hujan di sentra produksi seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur menyebabkan gagal panen dan penurunan kualitas distribusi.
-
Komoditas Lainnya: Selain cabai, harga bawang merah dan telur ayam ras juga terpantau merangkak naik sekitar 5% dari harga normal.
-
Stok Pasar: Pasokan ke pasar induk mengalami penurunan volume akibat hambatan logistik di jalur distribusi antar-provinsi.
-
Respons Pemerintah: Badan Pangan Nasional mulai merencanakan operasi pasar murah guna menstabilkan harga dan menjaga daya beli masyarakat bawah.
Analisis Penyebab dan Dampak Ekonomi Rumah Tangga
A. Gangguan Rantai Pasok Akibat Faktor Alam Melonjaknya harga cabai hingga hampir menyentuh angka Rp80.000 per kilogram tidak terlepas dari anomali cuaca yang melanda jalur distribusi utama. Intensitas hujan yang ekstrem di awal tahun 2026 ini membuat para petani di wilayah perbukitan kesulitan dalam proses pemetikan dan pengeringan. Akibatnya, banyak hasil panen yang membusuk sebelum sampai ke tangan distributor. Ketidakseimbangan antara permintaan yang tetap tinggi dan suplai yang merosot tajam secara otomatis mendorong harga ke titik tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
B. Dampak bagi Pelaku Usaha Mikro dan Konsumen Kenaikan harga pangan ini memberikan dampak langsung bagi para pelaku usaha kuliner, khususnya warung makan skala kecil yang sangat mengandalkan cabai sebagai bahan baku utama sambal. Banyak pedagang terpaksa mengurangi porsi atau menaikkan harga jual demi menjaga margin keuntungan. Di sisi konsumen rumah tangga, efisiensi pengeluaran mulai dilakukan dengan mengalihkan konsumsi ke bahan pangan alternatif. Jika kondisi ini bertahan hingga memasuki bulan depan, dikhawatirkan daya beli masyarakat akan semakin tertekan.
C. Langkah Strategis Stabilisasi Harga Nasional Pemerintah perlu melakukan langkah konkret selain operasi pasar, yakni memperkuat manajemen stok melalui sistem resi gudang dan teknologi pengolahan pangan. Pengembangan bibit unggul yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem juga menjadi solusi jangka panjang agar kedaulatan pangan tetap terjaga. Koordinasi antar-daerah surplus dan daerah defisit harus dioptimalkan untuk memastikan distribusi pangan merata di seluruh pelosok tanah air, sehingga disparitas harga antar-wilayah tidak semakin lebar di masa depan.
Update harga pangan yang menunjukkan lonjakan cabai rawit merah hingga Rp78.450/kg merupakan peringatan bagi ketahanan pangan nasional di tahun 2026. Sinergi antara pemerintah, petani, dan distributor sangat dibutuhkan untuk meredam gejolak harga yang merugikan masyarakat luas. Harapannya, dengan intervensi kebijakan yang tepat, harga pangan dapat segera kembali stabil sebelum memasuki periode perayaan hari besar keagamaan mendatang. Mari tetap bijak dalam mengatur belanja kebutuhan harian dan mendukung pemanfaatan pangan lokal untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga.